Kamis, 23 Januari 2020

Part 2 INDAHNYA MATA DIRA

Aku melangkah ke kelas dengan wajah yang datar. Kelas yang sama. Aku harus mengulang mata kuliah ini lagi, akibat dari kebodohanku yang kabur dari sekolah akibat pertikaian orangtuaku tahun lalu. Sebagai mahasiswa magister harusnya ini jadi tahun terakhirku. Ya itu harusnya, andai aku tidak membandal di semester pertamaku. Karena kecewa akan kondisi keluargaku, kuputuskan pergi dari sekolah dan hidup jauh dari ayah ibuku sambil bekerja di salah satu desa terpencil. Sampai akhirnya aku jatuh sakit, dan menyerah pulang kerumah. Aku bersyukur pihak kampus masih mau menerimaku kembali sebagai mahasiswa mereka.

Aku, Andrew dan Mark teman satu ruanganku di research room duduk bersisian
 Seketika Mr. Sam masuk, diikuti seorang gadis dengan penampilan yang asing. Yah asing menurutku, mengingat warna kulitnya yang khas Asia, tinggi badannya yang setinggi anak SMP, dan kepala yang tertunduk malu. Lebih dari dua puluh pasang mata menatap penuh selidik padanya.

"Selamat pagi semua, kita memiliki seorang mahasiswa internasional di sini. dari Asia, Indonesia. Silahkan duduk ditempat kosong miss Dira."

Lalu dia melangkah perlahan. Melewati posisiku dan kedua temanku. Aroma melati seketika memenuhi penciumanku. "Mengganggu sekali" batinku sambil memusatkan pikiranku pada Mr. Sam yang mulai menjelaskan materi dalam bahasa Jerman.

Perkuliahan 3 sks akhirnya usai, bersamaan dengan perutku yang keroncongan. Semua siswa berjalan meninggalkan kelas seiring perginya Mr. Sam. Begitupun aku dan kedua temanku.

Dipintu kelas Mark berhenti melangkah dan memutar balik badannya, berjalan kembali ke kelas. Seiring dengan itu aku dan Andrew menoleh kembali ke kelas dan menemukan sosok gadis yang masih berdiam dengan wajah kebingungan disana.

"Mau makan siang bersama?" tanya Mark padanya tanpa basa basi dalam bahasa inggris.

"Okay." katanya tanpa penolakan sedikitpun.

Aku terkejut. Dia gadis pertama yang kutemui menerima ajakan makan siang dari seseorang yang bahkan belum dia kenal.

"Ceroboh sekali gadis ini." ucapku pada Andrew yang masih berdiri disampingku. Kulihat gadis itu berjalan mengikuti Mark yang mendekat kearah kami.

Dalam hening gadis itu mengikuti kami sampai ke research room dilantai 5, sementara kami bertiga sibuk dengan candaan.

"Dira, kamu bisa berbahasa Jerman?" tanya Mark penuh selidik.

"hmmm... Hanya sedikit-sedikit." jawabnya penuh keragu-raguan.

"Tunjukkan padaku darimana asalmu." selidik Mark sambil menunjukkan Google map di smartphone nya.

"Pulau yang ini. Namanya Sumatra." jawab gadis itu. Akupun ikut melihat kearah smartphone Mark.

"Silahkan masuk." ucap Andrew seketika setelah dia berhasil membuka pintu.

Lalu kami berempat masuk. Dan gadis ini bahkan tidak menanyakan nama salah satu diantara kami. Cihhh..  Sombong sekali dia.

"Ingin makan apa?" tanya Mark padanya.

"Sayuran." jawab gadis itu.

"Kami tidak punya menu sayuran. Bagaimana dengan hamburger?" tanya Mark.

"Boleh." jawab gadis itu.

"Pakai daging dan telur?" tanya Mark lagi.

"Tidak. Terimakasih." sahutnya singkat.

"Bicaranya hemat sekali." omelku dalam hati.

"Apakah kamu seorang vegetarian?" tanya Andrew penuh selidik.

"Bukan." jawab gadis itu.

"Kenapa tanpa daging?" kembali Andrew menyelidik.

"Aku takut gemuk." Jawaban paling konyol yang pernah kudengar, karena kalimat itu terucap dari bibir gadis berbadan kurus.

Lalu kami memesan makanan dan kembali pada komputer masing-masing. Dan gadis itu hanya duduk berdiam diri. Kaku sekali.

Knock knock knock. Seseorang mengetuk pintu. Makanan kami tiba.

Mark menyodorkan pesanan ms.Dira. benar-benar pria berhati malaikat. Gadis itu menerima makananya seraya mengucapkan terimakasih. Lalu sambil menggenggam makanannya dia memejamkan kedua matanya. Apa dia tidur?

"Dira bangun. Jangan tidur." ucap Andrew mewakili perasaanku.

"Aku tidak tidur. Hanya berdoa." jawabnya.

"Untuk apa?" tanya Andrew lagi.

"Mengucap syukur untuk makanan ku." jawab gadis itu.
itu.

"Dasar gadis aneh dan tidak sopan." batinku. Bagaimana mungkin dia makan siang dengan kami tanpa berkenalan terlebih dahulu. Ceroboh sekali dia. Tipe gadis yang mudah diculik.

"Maaf, boleh aku tahu nama kalian?" tanyanya.

"Aku Mark."
"Aku Andrew" sahut mereka hampir bersamaan.

"hmmm... Siapa namamu?" tanyanya padaku.

"Mike." jawabku singkat

Lalu dia kembali menikmati makanannya. Setelah menyelesaikan makanannya dia pamitan pulang. Bersamaan dengan Mr.Sam yang masuk ke ruangan kami.

"Bagaimana Dira. Are they treating you well?" tanyanya.

"Mereka sangat baik." jawab Dira.

"Semoga kamu betah dengan tim ini." ujar Mr.Sam diikuti oleh anggukan kepala Dira.

Begitulah awalnya dia tiba di sini. Awal pertemuan kami dengan Dira.

***

Hari ini adalah hari kedua Dira bersama kami. Dengan wajah bingung memasuki research room.

"Bisa tolong aku memahami email ini?" tanyanya sambil menyodorkan hp padaku. Email pengumuman dari kantor jurusan mengenai kelas seminar.

"Dira, bahasa jermanmu kacau sekali. Kenapa kamu berani datang kesini dengan kemampuan berbahasa yang separah ini?" tanyaku prustasi.

"hmmmm.. Maaf." ucapnya dengan memasang wajah penuh rasa bersalah.

"Beritahu alasanmu memilih datang ke Jerman." tanyaku lembut.
lembut.

"Aku ingin jadi orang yang kuat." jawabnya.

"Aku tidak mengerti maksudmu."

"Dinegaraku banyak anak-anak yang tidak beruntung. Mereka tidak punya rumah maupun orang tua. Ada anak yang punya orang tua, namun tidak sanggup bersekolah. Aku ingin menjadi kuat dan punya kemampuan untuk menolong mereka keluar dari masalah itu." jawabnya dengan mata berbinar.

Aku menatap mata cokeletnya, berbinar indah sekali. Seketika aku terharu.

"Air mataku hampir menetes." ujarku.

"Hei, ini bukan cerita sedih." ucapnya.

***

Akhirnya kami tiba di semester terakhir perkuliahan. Aku dan Dira berjalan di bawah pohon di taman kampus. Menuju kantin sekolah.

"Mickey, apa mimpimu?" tanyanya.

"Menjadi orang kaya." jawabku

Lalu dia terdiam.

"Apa mimpimu Dira?" tanyaku kemudian.

"Menjadi orang yang berdampak dan bermanfaat bagi orang lain. Bisa menolong, membawa cinta dan membuat orang lain tersenyum." ujarnya lagi. Aku mencuri pandang kearahnya dan kudapati mata yang berbinar-binar.

"Kau tidak ingin kaya?" tanyaku.

"kekayaan itu akan hilang juga." jawabnya.

"Teman-temanmu juga." jawabku

"Aku tidak ingin hidup untuk mengumpulkan uang Mickey. Aku ingin hidup untuk membagikan uang." jawabnya.

"Aku tidak harus kaya untuk mencintai orang lain." tambahnya.

Dira, matanya memandang dunia dari arah yang berbeda. Indah sekali. Ingin ku genggam tangannya dan ku ajak masuk kehidupku, andai aku bisa menjadi seegois itu.


To be continued...

Happy reading ya teman-teman. ini part masa lalu mickey dan Dira. Mau tau kenapa Mike menahan diri untuk tidak menggenggam tangan Dira? Penasaran kan bagaimana Mike dan Dira berpisah dan akhirnya bertemu lagi? Tunggu part berikutnya ya..

😍😍


Part 1 BERTEMU

Angin berhembus kencang pagi ini, saat aku mengendarai sepeda motorku melewati persawahan menuju kampus tempat aku bekerja sebagai asisten dosen. Namaku Mike, usiaku 27 tahun. Akhirnya aku tiba diparkiran kampus, lalu memilih untuk berjalan pada setapak jalan diantas rerumputan hijau.

"Jangan lewat dari sini, aku takut ular." tiba-tiba terngiang suara berisik gadis itu.

Aku terdiam. Berdiri mematung sejenak. Dira, gadis berisik nan konyol yang sudah setahun tak kulihat lagi di sini. Tapi tawanya, candanya, wanginya, semua tentang dia sungguh-sungguh jelas dalam ingatanku.

"Hai" sebuah tangan menepuk pundakku. Dan suara itu?

"Mark" seruku setengah histeris sambil memandangi nya masih tidak percaya.

"Jangan terkejut dulu. Masih ada kejutan lain buatmu." sahutnya.

"Ayok kekantormu. atau kau berencana berjemur di sini seharian?" tanyanya lagi.

"Let's go. Sahutku."

"Teman-teman." sebuah suara dari belakang. Suara yang tidak asing bagiku.

Seketika aku menoleh, dan menemukan sosok laki-laki bertubuh subur dengan wajah imut berjalan mendekah.

"Andrew, Mark? Apa kalian sudah berjanji untuk berkunjung bersama hari ini?" tanyaku penuh selidik.

"Iya. Kami baru meninggalkan tempat ini selama 4 bulan. Tapi kami sudah sangat rindu." jawab Andrew.

"Pasti dia jauh lebih rindu." ujar Mark lirih.

"Maksudmu aku?" tanyaku. "Aku bekerja di sini setiap hari" jawabku kemudian.

"Oh man, it's not funny." jawab andrew. "Yok kekantormu" ujarnya kemudian.

Lalu kami berjalan menuju ke arah gedung jurusan ku. Setelah melalui jalan setapak berumput sejauh 200 meter akhirnya kami tiba didepan gedung gym. Kedua lelaki itu mulai menapakkan kakinya pada anak tangga disekitar halaman gym. Sedang aku berbelok ke kanan.

"Eh, lewat sana?" tanya Andrew ragu.

"Aku malas menapaki anak tangga itu satu persatu." jawabku.

"Aku ingat kalimat itu. Apa kau merindukannya?" tanya Mark akhirnya.

"Bagaimana mungkin? Aku yang memutuskan semua jalan untuk berkomunikasi dengannya." jawabku.

"Kau setega itu? Dia pasti menangis. Aku tahu, dia selalu cengeng." tambah Andrew.

"Dia kuat." ujar Mark. "Aku sangat merindukannya." ujarnya lagi.

Lalu kami memilih untuk membisu. Sibuk dengan pikiran masing-masing sambil terus berjalan.

Iya aku begitu merindukan gadis itu. Jalan ini, rute yang selalu dia pilih untuk menuju kelas di jurusan semasa kami kuliah. Setahun sudah aku tidak mendengar kabarnya. Aku memang memblokir semua media komunikasi dengannya. Tapi bukan karena aku ingin begitu. Aku harus. Harus menghindarinya, karena dia ingin melupakanmu. Karena dia tidak ingin aku menjadi egois.

Dira, dan setelah aku kehilangannya tak ada gadis lain yang singgah lagi dihidupku. saat kepergian Dira, aku bahkan kehilangan seluruh rasa yang pernah ada untuk gadis yang saat itu berstatus sebagai tunanganku.

"kamu jangan bekerja untuk mencari uang. Bekerjalah untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain." sekali lagi kalimatnya terngiang dalam ingatanku.

"Mickeeeey... Tunggu aku. Hahahaha" caranya berlari, lengkingan suaranya, dan tawanya yang lepas. aku hapal semuanya. Seolah Dira masih di sini.

Kami pun tiba di kantorku. Sebuah ruangan bercat putih, yang di isi sofa dan meja tamu. Ditambah meja kerjaku dengan 3 komputer, lemari berisi tumpukan buku di salah satu di dinding, dan jendela kaca serta pintu menuju balkon.

"Dira akan betah di sini." ujar Mark. Seraya berjalan kearah balkon dan membuka pintu.

"Mickey, kau merawat mereka semua?" seru Mark dari balkon.

"Siapa Mark?" tanya Andrew sambil berlari menuju Mark.
Mike, kapan kau mengadopsi semua bayi-bayi ini?" tanya Andrew kemudian.

"Setelah kalian pergi, aku tahu tidak ada yang akan mempedulikan mereka. Lalu kupindahkan semua tanaman itu kesini." jawabku.

"Dira akan senang mengetahui ini." ujar Mark sambil bersiap mengambil foto dengan hp nya.

"Jangan Mark." cegahku.

"Mickey, kau payah sekali." jawabnya seraya menarik lengan Andrew masuk ke ruangan ku lagi.

Knock knock knock. Seseorang mengetuk pintu.

"Kau punya tamu. Haruskah kami keluar?" tanya Mark.

"Tidak cegahku." sambil berjalan ke arah pintu, membukanya dan menemukan seorang mahasiswa bimbingan bosku di pintu.

"Ada apa?" tanyaku.

"Pak, bisa ikut kami keruangan? Mr.Sam baru saja menelepon mengatakan dia tidak bisa masuk hari ini." jawabnya.

"Baiklah." jawabku. Selama menjadi asisten Mr.Sam ini pertama kalinya dia mengabari mahasiswa terlebih dahulu. Biasanya dia langsung meneleponku.

"Guys, aku ke kelas sebentar." Mr.Sam tidak hadir. Jelas ku pada kedua temanku sambil mengambil hp dari meja kerjaku. Pantas saja, hp ku dalam mode silence. karena asik berbicara dengan kedua pria ini aku lupa mengaktifkan volume deringnya. Kutemukan 3 panggilan tidak terjawab dari Mr.Sam, Andrew, dan sebuah nomor baru.

"Ok." jawab Mark.

Aku langsung menuju ke ruang kelas. Ini matakuliah virus dasar untuk tingkat Master. Dan ini pertemuan terakhir. Sebelum minggu depan diadakan ujian. Ya aku ingat hari ini adalah ulang tahun gadis itu. Dira.

"Dira, selamat ulang tahun. Bahagialah, kumohon. Jangan rindukan aku." ucapku dalam hati sambil membuka pintu dan masuk kedalam kelas.

"Selamat pagi. Hari ini kita akan bahas topik terakhir mengenai..." aku berbicara sambil mengedarkan pandanganku ke seisi kelas. Scan singkat untuk absensi mahasiswa. Namun tiba-tiba, jantungku bergetar lebih cepat. Sosok yang duduk di sudut belakang. Gadis itu? Apa aku terlalu merindukannya hingga ake berhalusinasi? Dira memang selalu duduk di sana, dan aku disebelahnya.

"Pak, anda baik-baik saja?" tanya ketua kelas.

"Tunggu sebentar, maaf biarkan aku kekamar mandi." ucapku sambil menundukkan kepalaku dan berjalan meninggalkan kelas.

Saat aku keluar dari pintu, sekelebat aku merasa seseorang berlari kearahku. Lalu aroma yang sangat jernih dalam kenanganku memenuhi indera penciumanku, sebuah sentuhan halus mendarat dipergelangan tanganku.

"Mickey, are you okay?" suara itu.

 Ah... Halusinasi ku benar-benar parah. Aku menggelengkan kepalaku, menutup mataku dan berdiri terpaku.

"Mickey jawab aku." katanya, suaranya terdengar sedih.

Kuberanikan membuka mataku. Dan aku melihat sosok yang sangat kurindukan berdiri dan memandangi wajahku penuh rasa khawatir.

"Dira?"

"Iya."

"Sedang apa kamu disini?" tanyaku.

"Belajar." jawabnya singkat.

"Kita bicara nanti. Masuklah."

"Apa kau baik-baik saja? Apa kita harus ke klinik kampus?" tanyanya.

"Aku baik-baik saja. Sana masuk ke kelas. Aku akan kekamar mandi sebentar." jawabku.

"Aku lega, kamu tidak apa-apa." jawabnya sambil tersenyum dan berlalu kedalam kelas.

Dress putih yang membuat kulit sawo matangnya semakin cerah, highhells putih, rambut ikalnya yang sepinggang, dan aroma Jasmin yang lembut. Dira disini. Begitu dekat denganku.

Aku mencuci tanganku. Kemudian menarik nafas dalam-dalam. Jantungku berdebar sangat kencang. Aku sangat ingin memeluk gadis itu erat-erat dan memohon padanya, jangan pergi lagi. Saat aku kembali ke kelas Dira masih di sana. Kelas akhirnya berlalu dengan hatiku yang masih bertanya-tanya tentang kedatangan Dira.

"Pak Mickey." panggilnya sambil berjalan mendekati ku.

"Ayok kekantor. Kau, Mark dan Andrew muncul bersamaan." jelas ku.

"Kami tahu Dira disini." ujar Mark yang memasuki kelas diikuti oleh Andrew.

"Untung saja semua siswa sudah keluar." jawabku datar.

"Mau makan siang ditempat kita biasa?" tanya Andrew.

"Ok." sahutku bersamaan dengan anggukan kepala Dira.

Dia masih imut. Dia makin cantik. Dia selalu tersenyum, sempat aku khawatir dia menghabiskan waktunya untuk menangis karenaku.

Jujur aku ingin menghabiskan waktu dengannya. Tapi tunggu kedua mahluk ini pulang.

"Dira, selamat ulang tahun." ucapku setengah berbisik yang dia tanggapi dengan senyuman dan mata berbinarnya.

Mata terindah yang pernah kulihat. Milik Dira, gadis yang sangat kurindukan, gadis yang membawa pergi hatiku. sekarang dia disini, di depan ku melahap makan siangnya.

"Makananku kebanyakan." ucapnya manja, khas Dira.

"Sini kubantu." jawabku.

"Thank you Mickey."

Andrew dan Mark hanya terdiam. Biasanya ini jatah mereka. Makanan bekas Dira. Tapi mulai hari ini tak kuijinkan siapapun memiliki Dira dan miliknya. Dia Diraku.


To be continued...


Hello guys, kisah ini bakalan bersambung ya. Penasaran kan dengan masa lalu Dira dan Mike? tunggu part berikutnya. Terimakasih