Aku melangkah ke kelas dengan wajah yang datar. Kelas yang sama. Aku harus mengulang mata kuliah ini lagi, akibat dari kebodohanku yang kabur dari sekolah akibat pertikaian orangtuaku tahun lalu. Sebagai mahasiswa magister harusnya ini jadi tahun terakhirku. Ya itu harusnya, andai aku tidak membandal di semester pertamaku. Karena kecewa akan kondisi keluargaku, kuputuskan pergi dari sekolah dan hidup jauh dari ayah ibuku sambil bekerja di salah satu desa terpencil. Sampai akhirnya aku jatuh sakit, dan menyerah pulang kerumah. Aku bersyukur pihak kampus masih mau menerimaku kembali sebagai mahasiswa mereka.
Aku, Andrew dan Mark teman satu ruanganku di research room duduk bersisian
Seketika Mr. Sam masuk, diikuti seorang gadis dengan penampilan yang asing. Yah asing menurutku, mengingat warna kulitnya yang khas Asia, tinggi badannya yang setinggi anak SMP, dan kepala yang tertunduk malu. Lebih dari dua puluh pasang mata menatap penuh selidik padanya.
"Selamat pagi semua, kita memiliki seorang mahasiswa internasional di sini. dari Asia, Indonesia. Silahkan duduk ditempat kosong miss Dira."
Lalu dia melangkah perlahan. Melewati posisiku dan kedua temanku. Aroma melati seketika memenuhi penciumanku. "Mengganggu sekali" batinku sambil memusatkan pikiranku pada Mr. Sam yang mulai menjelaskan materi dalam bahasa Jerman.
Perkuliahan 3 sks akhirnya usai, bersamaan dengan perutku yang keroncongan. Semua siswa berjalan meninggalkan kelas seiring perginya Mr. Sam. Begitupun aku dan kedua temanku.
Dipintu kelas Mark berhenti melangkah dan memutar balik badannya, berjalan kembali ke kelas. Seiring dengan itu aku dan Andrew menoleh kembali ke kelas dan menemukan sosok gadis yang masih berdiam dengan wajah kebingungan disana.
"Mau makan siang bersama?" tanya Mark padanya tanpa basa basi dalam bahasa inggris.
"Okay." katanya tanpa penolakan sedikitpun.
Aku terkejut. Dia gadis pertama yang kutemui menerima ajakan makan siang dari seseorang yang bahkan belum dia kenal.
"Ceroboh sekali gadis ini." ucapku pada Andrew yang masih berdiri disampingku. Kulihat gadis itu berjalan mengikuti Mark yang mendekat kearah kami.
Dalam hening gadis itu mengikuti kami sampai ke research room dilantai 5, sementara kami bertiga sibuk dengan candaan.
"Dira, kamu bisa berbahasa Jerman?" tanya Mark penuh selidik.
"hmmm... Hanya sedikit-sedikit." jawabnya penuh keragu-raguan.
"Tunjukkan padaku darimana asalmu." selidik Mark sambil menunjukkan Google map di smartphone nya.
"Pulau yang ini. Namanya Sumatra." jawab gadis itu. Akupun ikut melihat kearah smartphone Mark.
"Silahkan masuk." ucap Andrew seketika setelah dia berhasil membuka pintu.
Lalu kami berempat masuk. Dan gadis ini bahkan tidak menanyakan nama salah satu diantara kami. Cihhh.. Sombong sekali dia.
"Ingin makan apa?" tanya Mark padanya.
"Sayuran." jawab gadis itu.
"Kami tidak punya menu sayuran. Bagaimana dengan hamburger?" tanya Mark.
"Boleh." jawab gadis itu.
"Pakai daging dan telur?" tanya Mark lagi.
"Tidak. Terimakasih." sahutnya singkat.
"Bicaranya hemat sekali." omelku dalam hati.
"Apakah kamu seorang vegetarian?" tanya Andrew penuh selidik.
"Bukan." jawab gadis itu.
"Kenapa tanpa daging?" kembali Andrew menyelidik.
"Aku takut gemuk." Jawaban paling konyol yang pernah kudengar, karena kalimat itu terucap dari bibir gadis berbadan kurus.
Lalu kami memesan makanan dan kembali pada komputer masing-masing. Dan gadis itu hanya duduk berdiam diri. Kaku sekali.
Knock knock knock. Seseorang mengetuk pintu. Makanan kami tiba.
Mark menyodorkan pesanan ms.Dira. benar-benar pria berhati malaikat. Gadis itu menerima makananya seraya mengucapkan terimakasih. Lalu sambil menggenggam makanannya dia memejamkan kedua matanya. Apa dia tidur?
"Dira bangun. Jangan tidur." ucap Andrew mewakili perasaanku.
"Aku tidak tidur. Hanya berdoa." jawabnya.
"Untuk apa?" tanya Andrew lagi.
"Mengucap syukur untuk makanan ku." jawab gadis itu.
itu.
"Dasar gadis aneh dan tidak sopan." batinku. Bagaimana mungkin dia makan siang dengan kami tanpa berkenalan terlebih dahulu. Ceroboh sekali dia. Tipe gadis yang mudah diculik.
"Maaf, boleh aku tahu nama kalian?" tanyanya.
"Aku Mark."
"Aku Andrew" sahut mereka hampir bersamaan.
"hmmm... Siapa namamu?" tanyanya padaku.
"Mike." jawabku singkat
Lalu dia kembali menikmati makanannya. Setelah menyelesaikan makanannya dia pamitan pulang. Bersamaan dengan Mr.Sam yang masuk ke ruangan kami.
"Bagaimana Dira. Are they treating you well?" tanyanya.
"Mereka sangat baik." jawab Dira.
"Semoga kamu betah dengan tim ini." ujar Mr.Sam diikuti oleh anggukan kepala Dira.
Begitulah awalnya dia tiba di sini. Awal pertemuan kami dengan Dira.
***
Hari ini adalah hari kedua Dira bersama kami. Dengan wajah bingung memasuki research room.
"Bisa tolong aku memahami email ini?" tanyanya sambil menyodorkan hp padaku. Email pengumuman dari kantor jurusan mengenai kelas seminar.
"Dira, bahasa jermanmu kacau sekali. Kenapa kamu berani datang kesini dengan kemampuan berbahasa yang separah ini?" tanyaku prustasi.
"hmmmm.. Maaf." ucapnya dengan memasang wajah penuh rasa bersalah.
"Beritahu alasanmu memilih datang ke Jerman." tanyaku lembut.
lembut.
"Aku ingin jadi orang yang kuat." jawabnya.
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Dinegaraku banyak anak-anak yang tidak beruntung. Mereka tidak punya rumah maupun orang tua. Ada anak yang punya orang tua, namun tidak sanggup bersekolah. Aku ingin menjadi kuat dan punya kemampuan untuk menolong mereka keluar dari masalah itu." jawabnya dengan mata berbinar.
Aku menatap mata cokeletnya, berbinar indah sekali. Seketika aku terharu.
"Air mataku hampir menetes." ujarku.
"Hei, ini bukan cerita sedih." ucapnya.
***
Akhirnya kami tiba di semester terakhir perkuliahan. Aku dan Dira berjalan di bawah pohon di taman kampus. Menuju kantin sekolah.
"Mickey, apa mimpimu?" tanyanya.
"Menjadi orang kaya." jawabku
Lalu dia terdiam.
"Apa mimpimu Dira?" tanyaku kemudian.
"Menjadi orang yang berdampak dan bermanfaat bagi orang lain. Bisa menolong, membawa cinta dan membuat orang lain tersenyum." ujarnya lagi. Aku mencuri pandang kearahnya dan kudapati mata yang berbinar-binar.
"Kau tidak ingin kaya?" tanyaku.
"kekayaan itu akan hilang juga." jawabnya.
"Teman-temanmu juga." jawabku
"Aku tidak ingin hidup untuk mengumpulkan uang Mickey. Aku ingin hidup untuk membagikan uang." jawabnya.
"Aku tidak harus kaya untuk mencintai orang lain." tambahnya.
Dira, matanya memandang dunia dari arah yang berbeda. Indah sekali. Ingin ku genggam tangannya dan ku ajak masuk kehidupku, andai aku bisa menjadi seegois itu.
To be continued...
Happy reading ya teman-teman. ini part masa lalu mickey dan Dira. Mau tau kenapa Mike menahan diri untuk tidak menggenggam tangan Dira? Penasaran kan bagaimana Mike dan Dira berpisah dan akhirnya bertemu lagi? Tunggu part berikutnya ya..
😍😍
Tidak ada komentar:
Posting Komentar