Angin berhembus kencang pagi ini, saat aku mengendarai sepeda motorku melewati persawahan menuju kampus tempat aku bekerja sebagai asisten dosen. Namaku Mike, usiaku 27 tahun. Akhirnya aku tiba diparkiran kampus, lalu memilih untuk berjalan pada setapak jalan diantas rerumputan hijau.
"Jangan lewat dari sini, aku takut ular." tiba-tiba terngiang suara berisik gadis itu.
Aku terdiam. Berdiri mematung sejenak. Dira, gadis berisik nan konyol yang sudah setahun tak kulihat lagi di sini. Tapi tawanya, candanya, wanginya, semua tentang dia sungguh-sungguh jelas dalam ingatanku.
"Hai" sebuah tangan menepuk pundakku. Dan suara itu?
"Mark" seruku setengah histeris sambil memandangi nya masih tidak percaya.
"Jangan terkejut dulu. Masih ada kejutan lain buatmu." sahutnya.
"Ayok kekantormu. atau kau berencana berjemur di sini seharian?" tanyanya lagi.
"Let's go. Sahutku."
"Teman-teman." sebuah suara dari belakang. Suara yang tidak asing bagiku.
Seketika aku menoleh, dan menemukan sosok laki-laki bertubuh subur dengan wajah imut berjalan mendekah.
"Andrew, Mark? Apa kalian sudah berjanji untuk berkunjung bersama hari ini?" tanyaku penuh selidik.
"Iya. Kami baru meninggalkan tempat ini selama 4 bulan. Tapi kami sudah sangat rindu." jawab Andrew.
"Pasti dia jauh lebih rindu." ujar Mark lirih.
"Maksudmu aku?" tanyaku. "Aku bekerja di sini setiap hari" jawabku kemudian.
"Oh man, it's not funny." jawab andrew. "Yok kekantormu" ujarnya kemudian.
Lalu kami berjalan menuju ke arah gedung jurusan ku. Setelah melalui jalan setapak berumput sejauh 200 meter akhirnya kami tiba didepan gedung gym. Kedua lelaki itu mulai menapakkan kakinya pada anak tangga disekitar halaman gym. Sedang aku berbelok ke kanan.
"Eh, lewat sana?" tanya Andrew ragu.
"Aku malas menapaki anak tangga itu satu persatu." jawabku.
"Aku ingat kalimat itu. Apa kau merindukannya?" tanya Mark akhirnya.
"Bagaimana mungkin? Aku yang memutuskan semua jalan untuk berkomunikasi dengannya." jawabku.
"Kau setega itu? Dia pasti menangis. Aku tahu, dia selalu cengeng." tambah Andrew.
"Dia kuat." ujar Mark. "Aku sangat merindukannya." ujarnya lagi.
Lalu kami memilih untuk membisu. Sibuk dengan pikiran masing-masing sambil terus berjalan.
Iya aku begitu merindukan gadis itu. Jalan ini, rute yang selalu dia pilih untuk menuju kelas di jurusan semasa kami kuliah. Setahun sudah aku tidak mendengar kabarnya. Aku memang memblokir semua media komunikasi dengannya. Tapi bukan karena aku ingin begitu. Aku harus. Harus menghindarinya, karena dia ingin melupakanmu. Karena dia tidak ingin aku menjadi egois.
Dira, dan setelah aku kehilangannya tak ada gadis lain yang singgah lagi dihidupku. saat kepergian Dira, aku bahkan kehilangan seluruh rasa yang pernah ada untuk gadis yang saat itu berstatus sebagai tunanganku.
"kamu jangan bekerja untuk mencari uang. Bekerjalah untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain." sekali lagi kalimatnya terngiang dalam ingatanku.
"Mickeeeey... Tunggu aku. Hahahaha" caranya berlari, lengkingan suaranya, dan tawanya yang lepas. aku hapal semuanya. Seolah Dira masih di sini.
Kami pun tiba di kantorku. Sebuah ruangan bercat putih, yang di isi sofa dan meja tamu. Ditambah meja kerjaku dengan 3 komputer, lemari berisi tumpukan buku di salah satu di dinding, dan jendela kaca serta pintu menuju balkon.
"Dira akan betah di sini." ujar Mark. Seraya berjalan kearah balkon dan membuka pintu.
"Mickey, kau merawat mereka semua?" seru Mark dari balkon.
"Siapa Mark?" tanya Andrew sambil berlari menuju Mark.
Mike, kapan kau mengadopsi semua bayi-bayi ini?" tanya Andrew kemudian.
"Setelah kalian pergi, aku tahu tidak ada yang akan mempedulikan mereka. Lalu kupindahkan semua tanaman itu kesini." jawabku.
"Dira akan senang mengetahui ini." ujar Mark sambil bersiap mengambil foto dengan hp nya.
"Jangan Mark." cegahku.
"Mickey, kau payah sekali." jawabnya seraya menarik lengan Andrew masuk ke ruangan ku lagi.
Knock knock knock. Seseorang mengetuk pintu.
"Kau punya tamu. Haruskah kami keluar?" tanya Mark.
"Tidak cegahku." sambil berjalan ke arah pintu, membukanya dan menemukan seorang mahasiswa bimbingan bosku di pintu.
"Ada apa?" tanyaku.
"Pak, bisa ikut kami keruangan? Mr.Sam baru saja menelepon mengatakan dia tidak bisa masuk hari ini." jawabnya.
"Baiklah." jawabku. Selama menjadi asisten Mr.Sam ini pertama kalinya dia mengabari mahasiswa terlebih dahulu. Biasanya dia langsung meneleponku.
"Guys, aku ke kelas sebentar." Mr.Sam tidak hadir. Jelas ku pada kedua temanku sambil mengambil hp dari meja kerjaku. Pantas saja, hp ku dalam mode silence. karena asik berbicara dengan kedua pria ini aku lupa mengaktifkan volume deringnya. Kutemukan 3 panggilan tidak terjawab dari Mr.Sam, Andrew, dan sebuah nomor baru.
"Ok." jawab Mark.
Aku langsung menuju ke ruang kelas. Ini matakuliah virus dasar untuk tingkat Master. Dan ini pertemuan terakhir. Sebelum minggu depan diadakan ujian. Ya aku ingat hari ini adalah ulang tahun gadis itu. Dira.
"Dira, selamat ulang tahun. Bahagialah, kumohon. Jangan rindukan aku." ucapku dalam hati sambil membuka pintu dan masuk kedalam kelas.
"Selamat pagi. Hari ini kita akan bahas topik terakhir mengenai..." aku berbicara sambil mengedarkan pandanganku ke seisi kelas. Scan singkat untuk absensi mahasiswa. Namun tiba-tiba, jantungku bergetar lebih cepat. Sosok yang duduk di sudut belakang. Gadis itu? Apa aku terlalu merindukannya hingga ake berhalusinasi? Dira memang selalu duduk di sana, dan aku disebelahnya.
"Pak, anda baik-baik saja?" tanya ketua kelas.
"Tunggu sebentar, maaf biarkan aku kekamar mandi." ucapku sambil menundukkan kepalaku dan berjalan meninggalkan kelas.
Saat aku keluar dari pintu, sekelebat aku merasa seseorang berlari kearahku. Lalu aroma yang sangat jernih dalam kenanganku memenuhi indera penciumanku, sebuah sentuhan halus mendarat dipergelangan tanganku.
"Mickey, are you okay?" suara itu.
Ah... Halusinasi ku benar-benar parah. Aku menggelengkan kepalaku, menutup mataku dan berdiri terpaku.
"Mickey jawab aku." katanya, suaranya terdengar sedih.
Kuberanikan membuka mataku. Dan aku melihat sosok yang sangat kurindukan berdiri dan memandangi wajahku penuh rasa khawatir.
"Dira?"
"Iya."
"Sedang apa kamu disini?" tanyaku.
"Belajar." jawabnya singkat.
"Kita bicara nanti. Masuklah."
"Apa kau baik-baik saja? Apa kita harus ke klinik kampus?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja. Sana masuk ke kelas. Aku akan kekamar mandi sebentar." jawabku.
"Aku lega, kamu tidak apa-apa." jawabnya sambil tersenyum dan berlalu kedalam kelas.
Dress putih yang membuat kulit sawo matangnya semakin cerah, highhells putih, rambut ikalnya yang sepinggang, dan aroma Jasmin yang lembut. Dira disini. Begitu dekat denganku.
Aku mencuci tanganku. Kemudian menarik nafas dalam-dalam. Jantungku berdebar sangat kencang. Aku sangat ingin memeluk gadis itu erat-erat dan memohon padanya, jangan pergi lagi. Saat aku kembali ke kelas Dira masih di sana. Kelas akhirnya berlalu dengan hatiku yang masih bertanya-tanya tentang kedatangan Dira.
"Pak Mickey." panggilnya sambil berjalan mendekati ku.
"Ayok kekantor. Kau, Mark dan Andrew muncul bersamaan." jelas ku.
"Kami tahu Dira disini." ujar Mark yang memasuki kelas diikuti oleh Andrew.
"Untung saja semua siswa sudah keluar." jawabku datar.
"Mau makan siang ditempat kita biasa?" tanya Andrew.
"Ok." sahutku bersamaan dengan anggukan kepala Dira.
Dia masih imut. Dia makin cantik. Dia selalu tersenyum, sempat aku khawatir dia menghabiskan waktunya untuk menangis karenaku.
Jujur aku ingin menghabiskan waktu dengannya. Tapi tunggu kedua mahluk ini pulang.
"Dira, selamat ulang tahun." ucapku setengah berbisik yang dia tanggapi dengan senyuman dan mata berbinarnya.
Mata terindah yang pernah kulihat. Milik Dira, gadis yang sangat kurindukan, gadis yang membawa pergi hatiku. sekarang dia disini, di depan ku melahap makan siangnya.
"Makananku kebanyakan." ucapnya manja, khas Dira.
"Sini kubantu." jawabku.
"Thank you Mickey."
Andrew dan Mark hanya terdiam. Biasanya ini jatah mereka. Makanan bekas Dira. Tapi mulai hari ini tak kuijinkan siapapun memiliki Dira dan miliknya. Dia Diraku.
To be continued...
Hello guys, kisah ini bakalan bersambung ya. Penasaran kan dengan masa lalu Dira dan Mike? tunggu part berikutnya. Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar